Tampilkan postingan dengan label news. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label news. Tampilkan semua postingan

Selasa, 19 Mei 2009

Lift Luar Angkasa





























Lift Luar Angkasa (Bahasa Inggris: Space Elevator) adalah struktur yang didesain untuk mengirim bahan-bahan dari bumi ke luar angkasa atau bahkan membuat "jembatan" berbetuk elevator dari bumi ke bulan (bahkan ke planet lain). Banyak rancangan telah diusulkan.


Awalnya ada pada kisah fiksi ilmiah, konsep lift luar angkasa mulai menarik perhatian serius pada bidang akademik dan juga bidang industri luar angkasa sendiri. Lift Luar Angkasa didesain untuk mengirim bahan-bahan dari bumi ke luar angkasa. Jika jadi, keuntungannya luar biasa banyak. Lift ini akan menggantikan peran roket yang ribet, berbahaya dan mahal dalam mengirim bahan-bahan material. Manusia bisa dengan sangat nyaman pulang-balik ke luar angkasa dengan biaya murah, metode gampang dan bisa berulang-ulang dipakai tanpa resiko tinggi.

Menurut berita NASA sudah 2 kali melakukan usaha untuk membuatnya, namun gagal. Saat ini mereka sedang berusaha membuatnya untuk ketiga kalinya melalui proyek bernama "Space Elevator Challenge". Namun usaha itu berusaha untuk didahului oleh Jepang yang baru saja mengumumkan rencana anggaran USD 7,3 miliar (sekitar Rp 73 triliun) untuk mengembangkan proyek yang sama.





















Konsep lift ini sederhana: satelit pada orbit dihubungkan dengan kabel yang terhubung pada stasiun di daerah khatulistiwa bumi. Lift akan memutari kabel.














Animasi carbon nanotube berputar

Terdapat tantangan yang harus dilewati dalam pembuatan lift luar angkasa. Kabel harus terbuat dari bahan yang harus 180 kali lebih kuat dari pada baja dan bobotnya harus lebih ringan. Kabarnya Jepang akan menggunakan bahan "carbon nanotube" yang sudah cukup kuat, namun masih harus dikembangkan 4 kali lebih kuat lagi untuk dapat memenuhi kebutuhan space elevator ini.

Hebatnya carbon nanotube, menurut laporan Engadget, adalah material ini bersifat konduktif bisa mengalirkan listrik. Jadi kabel itu nantinya tidak hanya berperan sebagai pegangan untuk mengangkat lift, namun juga sekaligus sebagai kabel power/listrik. Artinya kebutuhan listrik dalam lift bisa dipenuhi sekalian. Antariksawan yang naik ke stasiun angkasa diperkirakan bisa memakan waktu beberapa hari hingga beberapa minggu, jadi pasokan listrik ke kabin lift pasti krusial.

Proyek ini sungguh gila, namun kalau memang bisa diwujudkan, saya yakin akan membawa banyak manfaat signifikan bagi usaha manusia untuk menaklukkan angkasa. Banyak orang yang percaya bahwa lift luar angkasa akan berhasil direalisasikan pada abad ini, abad ke-21.















http://madriyanto.blogspot.com/2008/09/lift-luar-angkasa-terwujud-segera.html






Rabu, 06 Mei 2009

Cahaya dari Planet Milenium

Kompas, Sabtu, 18 Desember 1999
http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/9912/18/IPTEK/caha26.htm

London, Jumat Menjelang tahun 2000, ilmu astronomi sedikit dikejutkan oleh pengumuman dua ilmuwan Skotlandia dan Amerika yang mengklaim melihat cahaya lemah dari planet besar di luar tata surya. Benda langit yang untuk sementara diberi nama planet milenium itu terlihat berkat bantuan teleskop raksasa di La Palma, Kepulauan Canary.

"Sinyal cahaya itu sangat lemah, tetapi sudah cukup memberi tahu kita bahwa ia berasal dari planet berdiameter dua kali diameter planet Jupiter dan massanya delapan kali massa Jupiter. Benar-benar monster," kata Dr Andrew Collier Cameron dari Universitas St Andrews, Skotlandia pekan ini.

Dalam empat tahun terakhir sudah 28 planet ditemukan, tetapi Cameron dan kawan-kawan merupakan orang pertama di Bumi yang melihat cahaya dari planet. Yang diketahui selama ini, planet tidak memancarkan cahaya.

Berjarak 55 tahun cahaya atau sekitar 520 trilyun kilometer dari Bumi,
bintang Tau Bootis yang dikitari planet ini dapat dilihat dengan mata
telanjang. Planet itu sendiri belum dapat diamati langsung dan eksistensinya belum dikonfirmasikan oleh astronom lain.

"Ini pertama kali kami dapat mendeteksi cahaya yang berasal dari planet,"
kata Professor Keith Horne, ilmuwan Amerika yang ikut dalam proyek ini.
"Saya kira studi atmosfer planet ini dan jenis molekul apa saja ada disana
sudah bisa dimulai."

Diterbitkan di jurnal ilmu Nature edisi Rabu 15 Desember, riset ini
melaporkan ukuran-ukuran astronomi planet tersebut dan menjelaskan apakah kehidupan dapat atau tidak berkembang di sana. "Studi ini merupakan langkah besar untuk mengetahui apakah ada kehidupan pada planet-planet yang berada di sekitar bintang," kata Horne.

Data yang sudah diketahui, selain massa dan diameternya, suhu atmosfer
planet itu sampai 2.000 derajat Celsius. (Reuters/sal)

KILASAN KAWAT DUNIA

http://www.kompas.com/kompas-cetak/9907/24/LN/kila12.htm

WASHINGTON - Manusia pernah mendarat di bulan. Namun, belum diketahui, apa di sana ada air. Dua ilmuwan Universitas Stanford menyatakan Jumat (23/7), mereka meragukan keberadaan air di bulan. Maka mereka meragukan rencana peluncuran satelit ke bulan untuk mencari air, karena berpendapat misi itu cuma akan memberikan data palsu. Von Eshleman, mahaguru masalah kelistrikan dan George Parkas, profesor geologi dan ilmu lingkungan mengatakan, misi peluncuran akhir bulan, yang sengaja menabrakkan kapal angkasa ke kutub selatan bulan untuk membuka es, dapat mengelabui ilmuwan apabila kurang hati-hati. Es kemungkinan pernah terbayang pada kutub bulan, tetapi diperkirakan telah bereaksi dengan lapisan debu di permukaan bulan.

Mir Space Station

Tanggal 23 Maret 2001 lampau, stasiun luar angkasa Rusia, Mir akhirnya menyelesaikan masa tugasnya selama 15 tahun di antariksa. Pusat pengendali Misi di Korolyov, luar kota Moskow mengarahkan stasiun berukuran 33m X 30m X 27m dengan berat 137 ton itu memasuki atmosfir bumi. Benda buatan manusia yang terbesar di luar angkasa itu akhirnya meledak dan terbakar dalam proses reentry tersebut, namun sekitar 1.500 potongan dengan berat total diperkirakan mencapai 25-30 ton menembus atmosfir dalam bentuk bola api raksasa dan akhirnya mencebur di samudera Pasifik Selatan dan korodor antara Selandia Baru dan Chili, di suatu lokasi yang biasa digunakan Rusia sebagai tempat pembuangan sampah angkasa (space junkyard).

Mir (juga dikenal sebagai DOS 7, akronim Rusia untuk "Stasiun Orbit Jangka Panjang") adalah stasiun ke-10 yang diluncurkan oleh Uni Sovyet (sekarang Rusia) setelah sebelumya meluncurkan tiga stasiun militer Almaz dan enam laboratorium DOS sipil. Modul inti Mir mencapai orbitnya pada 20 Februari 1986 dan telah menempuh 86.330 orbit mengelilingi bumi sebelum misinya berakhir. Sebanyak 28 misi jangka panjang yang melibatkan 106 astronaut dari berbagai negara dengan total masa tinggal tidak kurang dari 4.591 hari (termasuk rekor terlama, 437 hari oleh ahli Fisika Valeriy Polyakov) serta serangkaian misi jangka pendek 11 hari selama satu dekade telah dilakukan di Mir. Tercatat 79 kali spacewalks (berjalan-jalan di luar angkasa) dan ribuan percobaan ilmiah dari berbagai disiplin ilmu telah dilakukan oleh para awak Mir selama masa tugasnya.

Selama mengangkasa, beberapa peristiwa kecelakaan pernah menimpa Mir. Kerusakan ringan terjadi tahun 1994 saat Mir bertabrakan dengan wahana Soyuz TM-17, sementara kerusakan yang lebih parah terjadi di tahun 1997 saat terjadi tabrakan dengan wahana Progress M-34. Persitiwa terakhir ini juga menyebabkan kebakaran selain kerusakan lain yang cukup serius pada modul Kvant (lihat bagan).

TAK ADA BUKTI SAMUDERA LUAS DI MARS

Kompas, Senin, 1 November 1999

http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/9911/01/IPTEK/kili17.htm

TAK ADA BUKTI SAMUDERA LUAS DI MARS - Para pakar yang mempelajari citra beresolusi tinggi yang diambil pesawat antariksa Mars Global Surveyor, menyimpulkan tidak ada bukti garis pantai yang mengelilingi samudera di Mars. Harapan adanya air muncul dari citra yang dibuat dalam misi Viking milik NASA tahun 1970-an yang diinterpretasikan oleh sejumlah peneliti. Dari citra yang diambil Mars Global Surveyor tahun 1998 -yang beresolusi lima sampai sepuluh kali lebih baik dari Viking- memperlihatkan tidak ada bukti garis pantai yang pernah dibentuk oleh adanya samudera. (NASA/awe)