Rabu, 06 Mei 2009
Mengembara ke Planet Merah 19.31
Selain Bulan, Mars termasuk obyek yang paling banyak diteliti oleh wahana buatan manusia. Dalam 40 tahun belakangan, telah tercatat sekitar 30 wahana tak berawak yang dikirim ke Mars oleh tiga negara, namun hanya kurang dari sepertiganya yang dinyatakan berhasil. Yang paling sukses diantaranya adalah wahana Viking 1 (diluncurkan 20 Agustus 1975, tiba di orbit Mars 19 Juni 1976) dan Viking 2 (diluncurkan 9 September 1975, tiba di orbit Mars pada 7 Agustus 1976). Kedua misi Viking ini melepaskan wahana pendarat ke permukaan planet tersebut yang bertugas mengirimkan gambar-gambar dari lokasi pendaratan dan melakukan serangkaian percobaan ilmiah disana. Pada tahun 1996 NASA juga telah mengirimkan wahana Pathfinder. Wahana yang terdiri dari modul pendarat (lander) seberat 264 kg dan kendaraan penjelajah seberat 10,5 kg yang dinamai Sojourner Rover berhasil mencapai permukaan Mars di daerah yang dikenal sebagai Ares Vallis pada 4 Juli 1997. Hingga misinya berakhir pada tanggal 17 september 1997 -- setelah komunikasi terputus karena alasan yang tidak diketahui, wahana tersebut telah mengirimkan lebih dari 16.000 gambar serta melakukan lebih dari 15 analisis kimia terhadap batuan dan kondisi angin serta cuaca di permukaan Mars.
Sedangkan tercatat diantara misi-misi yang gagal adalah wahana Mars Polar Lander. Wahana senilai USD 165 juta yang diluncurkan pada 3 Januari 1999 ini kehilangan kontak dengan pengendali di bumi pada 3 Desember 1999 saat melakukan pendaratan di planet tersebut. Tim penyelidik NASA menyimpulkan bahwa Roket pada wahana tersebut mati sebelum waktunya hingga wahana tersebut meluncur dari ketinggian 130 kaki tanpa ada gaya yang menahannya.
Terjebak di Lembah Gelap 09.03
Keberadaan air di bulan sebatas di dasar kawah dalam di dekat
kedua kutub. Persediaannya cukup untuk koloni 2.000 orang
selama 100 tahun.
TAK sia-sia Lunar Prospector mengembara jauh di atas kedua kutub
bulan. Setelah dua bulan mengorbit di ketinggian 100 kilometer di atas
permukaan, dengan arah utara-selatan, satelit ''peliharaan" Badan
Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA) itu berhasil
menyajikan data yang bisa mengindikasikan bahwa di bulan tersedia
sejumlah air. Menurut siaran pers NASA awal pekan lalu, jumlah air itu
cukup besar, 11-330 juta ton.
Air bulan itu berada di dasar kawah-kawah bulan, yang diameternya bisa
mencapai ratusan kilometer dengan kedalaman hingga 12 kilometer, yang
terserak di sekitar kutub utara dan selatan bulan. Lembah berair itu,
menurut taksiran NASA, 10.000-15.000 kilometer persegi ada di kutub
utara dan 5.000-20.000 kilometer persegi di kutub selatan.
Penemuan itu cukup menyentak. Ketersediaan air ini seperti membuka
peluang bagi orang Amerika, yang bermimpi membangun koloni di luar
bumi. Membawa air dari bumi membuat mimpi itu mahal. Mengangkut
satu liter air bumi ke bulan memerlukan ongkos US$ 10.000. Berapa
biaya yang harus ditanggung bila orang Amerika, yang biasa
mengonsumsi 400 liter air sehari, untuk koloninya di bulan? Luar biasa
mahal.
Namun air di bulan itu tidak terkumpul di danau yang bisa ditimba orang.
Air di bulan ini berupa butiran-butiran es, yang terselip dan terjebak di
antara debu dan batuan bulan (regolith) pada kedalaman 50-200
sentimeter. Tak mudah mengambilnya, karena kadar air batuan itu hanya
0,3%-1%.
Bagaimanapun keadaannya, bukti-bukti yang diungkap Lunar Prospector
itu dianggap cukup terpercaya, setidaknya oleh Alan Binder dari Institut
Riset Bulan di California, Amerika Serikat. "Ini pertama kalinya saya
memperoleh bukti yang tak perlu dipertanyakan," katanya. Dr. Moedji
Raharto, Ketua Jurusan Astronomi, Institut Teknologi Bandung, bahkan
mengatakan bahwa keberadaan air di bulan itu membuka khazanah baru
dalam hal kondisi geologis bulan. "Ini membuka jalan bagi pandangan dan
penjelasan baru," katanya.
Selama ini, kata Moedji, para ahli menganggap bahwa air -lepas dari
mana pun asalnya- tak akan lama tertahan di bulan. Gravitasi yang kecil
membuat gas-gas yang menghuni atmosfer bulan lepas ke angkasa luar
dan tak kembali. Atmosfer bulan kosong. Vakum. Kalaupun ada air, kata
Moedji, akan menguap dan terbang ke luar angkasa. Apalagi di siang hari
(waktu bulan), suhu di permukaannya mencapai 1700C. Tapi kata Moedji
pula, ada celah tempat air itu tersembunyi, yakni di bagian permukaan
bulan yang tak pernah tersentuh sinar matahari.
Dalam penjelasan NASA, air itu memang berada di lembah-lembah
gelap yang tidak pernah disorot sinar surya. Lembah gelap itu ada di
dasar-dasar kawah yang dalam di sekitar kutub bulan. Air aman di sana,
karena suhunya -1700C. Begitu tiba, air langsung menjadi serpihan es,
dan tak pernah mencair atau menguap.
Isyarat adanya air di bulan itu mula-mula datang dari Clamentine, satelit
eksperimen yang dikelola Departemen Pertahanan Amerika Serikat.
Sekitar pertengahan 1996, satelit ini membidikkan radarnya ke
cerung-cerung kawah bulan. Ketika radar itu menimpa dasar kawah
yang gelap di dekat kutub bulan, muncul isyarat aneh. Pantulan radar
yang dideteksi di stasiun bumi terasa lebih keras dengan frekuensi yang
berbeda ketimbang pantulan dari batuan bulan yang keras. Hal ini
mengindikasikan adanya material ringan. Para ahli menduga, di situ ada
air. Tapi kemungkinan adanya metana pun tak diabaikan.
Ekspedisi berikutnya diemban Lunar Prospector, satelit seberat 295
kilogram berbentuk silinder pendek dengan tiga lengan antena, yang
diluncurkan 7 Januari lalu dan sampai di tujuan 60 jam kemudian. Satelit
ini membawa Spektrometer Netron. Instrumen ini telah teruji mampu
mendeteksi air dalam tanah, meski kadarnya 0,01%, dari jarak 100
kilometer. Spektrometer Netron melakukan pengindraan air lewat
pendeteksinya, atom hidrogen. Maka muncullah pernyataan NASA:
"Kemungkinan besar di bulan ada air."
Sejauh ini, belum ada kesepakatan tentang teori dari mana air itu
datang. Para ahli NASA, untuk sementara ini, menduga bahwa air itu
dibawa komet atau meteor yang menumbuk bulan. Tumbukan itu tentu
terjadi di banyak tempat. Tapi air yang jatuh di tempat terbuka hanya
sejenak di bulan. Sengatan sinar matahari, ditambah atmosfer yang
vakum, dengan cepat membuat air itu berubah menjadi gas, lalu terbang.
Hanya di tempat- tempat gelap itu keberadaan air lebih lestari. Para ahli
NASA memperkirakan, air itu telah ada di lembah-lembah gelap bulan
selama jutaan tahun.
Cadangan 330 juta ton air ini memungkinkan umat manusia membangun
koloni di bulan dengan populasi 2.000 orang, dan hidup selama 100 tahun
tanpa harus melakukan daur ulang. Tapi bukan semata-mata "mimpi
koloni" itu, penemuan Lunar Prospector menjadi penting. Temuan ini juga
diharapkan bisa menguak rahasia meteor yang menumbuk permukaan
bulan dan akibatnya, bahkan tentang misteri kawah-kawah yang
membuat wajah asli bulan bopeng bukan main.
Black Hole baru ditemukan 'dekat' dengan bumi 09.03
satunet.com - Empat semburan energi sinar X menyiagakan para
astronom bahwa sebuah Black Hole ditemukan berada sejarak 1.600
tahun cahaya dari bumi, jarak yang menurut hitungan astronomi
praktis sama dengan sudah di ambang pintu.
Laporan Sabtu mengatakan bahwa Lubang Hitam itu sebenarnya
pertama kali ditemukan secara kebetulan oleh seorang astronom
amatir asal Ausralia pada September tahun lalu yang mencatat
adanya sebuah 'bintang yang tiba-tiba menyala terang'.
Temuan tersebut jadi perhatian para astoronom profesional setelah
kemudian detektor sinar X yang diarahkan ke obyek bintang tersebut
menangkap empat kali semburan energi sinar X secara berturut-turut.
Astronom Massachusetts Institute of Technology (MIT) Donald Smith menyatakan keterkejutannya atas temuan tersebut. Karena, dari
semburan yang berlangsung masing-masing sekitar dua jam
tersebut setelah diteliti ternyata merupakan sebuah Black Hole
yang semburannya tercepat serta terkuat yang pernah ditemukan
selama ini.
Black Hole tersebut dideteksi berada di konstelasi Sagitarius dan
berpusat di sebuah bintang yang disebut V4641 Sgr. Sedemikian
semburannya sehingga sinar X yang dihasilkan diperkirakan berasal
dari obyek sub-kelas yang baru.
Black Hole adalah sebuah obyek yang sangat padat dengan bidang
gravitasi yang begitu kuat sehingga cahaya sekalipun tidak bisa lolos.
Saat Black Hole menarik materi ke pusat gravitasinya, gas dan debu
yang ikut tersedot bisa memanas hingga mencapai jutaan derajat.
Fenomena tersebut menciptakan sinar X yang dapat dideteksi oleh
teleskop sinar X. (ymo)


.gif)